Peringatan Hari Anti Tambang, Aktivis Peduli Lingkungan di Dairi Gelar Aksi dan Pameran Foto

oleh -117 Dilihat
FOTO BERSAMA: Puluhan aktivis lingkungan, mahasiswa dan masyarakat dari berbagai organisasi gelar aksi damai dan pameran foto peringatan hari anti tambang, Jumat (29/5/2026) di depan kantor bupati.(Foto/Serenews.id Tim)
banner 468x60

Sidikalang,Serenews.id– Puluhan aktivis lingkungan, mahasiswa dan masyarakat dari berbagai organisasi gelar aksi damai memperingati Hari Anti Tambang dengan memamerkan foto-foto lingkungan yang rusak akibat pertambangan, Jumat (29/5/2026) di depan kantor Bupati Dairi.

Massa menyampaikan orasi tetkait dampak negatif dari aktivitas pertambangan. Mereka memajang foto- foto kerusakan lingkungan dan dampaknya bagi masyarakat sebanyak 24 papan spanduk.

Foto- foto dipajang di depan kantor bupati merupakan potret kerusakan alam akibat eksploitasi sehingga mengakibatkan banjir bandang, pencemaran limbah, kerusakan lahan pertanian, hingga bencana ekologis.

Aksi tersebut diikuti peserta dari berbagai organisasi, di antaranya Petrasa, Yayasan Diakonia Pelangi Kasih (YDPK), DPC GMNI Dairi, PMMI Dairi, Aliansi Petani untuk Keadilan (APUK), dan Aliansi Pakpak Silima Suak (APSS) Dairi.

Advokasi YDPK Dairi, Rohani Manalu mengatakan, Peringatan Hari Anti Tambang menjadi momentum untuk mengingat tragedi lumpur Lapindo di Sidoarjo yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat terdampak.

“Selama hampir dua dekade warga kehilangan rumah, sawah, pekerjaan, hingga masa depan mereka. Dampak tambang bukan hanya soal kerusakan alam, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial masyarakat,” ujar Rohani dalam orasinya.

Menurutnya, Kabupaten Dairi yang memiliki kondisi geografis rawan bencana tidak layak dijadikan kawasan pertambangan. Ia menegaskan masyarakat selama ini hidup dari sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Diterangkan, sebanyak 42 persen aktivitas ekonomi masyarakat Dairi ditopang sektor pertanian. Bahkan dalam Perda Nomor 7 Tahun 2014 ditegaskan bahwa Dairi tidak boleh dialihfungsikan menjadi kawasan pertambangan. Rohani menilai pemerintah lebih berpihak pada kepentingan investasi dibanding keselamatan masyarakat.

Sementara itu, Aliansi Petani Untuk Keadilan (APUK) Dairi yang juga perwakilan masyarakat lingkar tambang Desa Bongkaras, Gerson Tampubolon mengaku, warga masih menyimpan trauma terhadap sejumlah bencana yang pernah terjadi, seperti kebocoran limbah pada 2012 pernah merusak lahan pertanian dan menyebabkan kematian ikan di sungai sekitar.

Selain itu, banjir bandang tahun 2018 juga menelan tujuh korban jiwa dan menghancurkan area persawahan masyarakat.

“Kami tidak ingin Dairi menjadi Lapindo kedua. Pameran foto ini adalah bentuk kepedulian kami untuk menjaga lingkungan dan mengingatkan semua pihak agar tidak mengabaikan keselamatan masyarakat,” ucap Gerson.

Ana Hutauruk dari Petrasa Dairi menambahkan, kaum perempuan dan para petani juga menolak kehadiran tambang di Dairi. Ia khawatir aktivitas tambang akan berdampak buruk terhadap kesehatan, pendidikan anak, budaya, hingga keselamatan masyarakat.

Aksi damai tersebut berlangsung tertib dan mendapat pengamanan dari personel Polres Dairi hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.(*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.