Dari Dairi ke Guangzhu, Ini Cerita Pengalaman Daniel Simarmata Penerima Beasiswa PT DPM

oleh -18 Dilihat
PENERIMA BEASISWA: Daniel Fransiskus Simarmata bersama teman- temannya penerima beasiswa PT DPM kuliah di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC) China, foto dipetik beberapa hari lalu.(Foto/Serenews.id Dok Baiq Idayani Jodi)
banner 468x60

Sidikalang,Serenews.id– Daniel Fransiskus Simarmata anak Kabupaten Dairi mahasiswa Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC) China. Ia merupakan penerima beasiswa PT Dairi Prima Mineral (PT DPM).

Daniel Simarmata melalui Deputy External Relations Manager PT DPM, Baiq Idayani Jodi, Jumat (10/10/2026) menceritakan, pengalaman Daniel mengikuti aktivitas perkuliahan sehari- hari diawali dari asrama mahasiswa di Guangzhou. Di tengah kesibukan kota dan lingkungan kampus, Daniel bersama lima mahasiswa asal Dairi, Sumatera Utara, bersiap menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di negeri orang.

Daniel merupakan penerima beasiswa PT DPM angkatan ketiga yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di GDPIC China.

Jauh dari suasana kampung halaman, Daniel dan teman-temannya harus belajar hidup mandiri, mulai dari mengatur waktu, menyiapkan kebutuhan kuliah, mengelola uang saku hingga menyelesaikan tugas akademik.

“Di Guangzhou, biasanya saya bangun, mandi, mempersiapkan diri untuk kelas. Kalau di Indonesia biasanya sarapan di rumah, sedangkan di China kami biasanya langsung ke kelas dengan berjalan kaki karena asrama masih di lingkungan kampus,” ujar Daniel.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik dari kehidupan di Guangzhou adalah perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat. Sistem pembayaran yang hampir seluruhnya dilakukan secara digital menjadi salah satu pengalaman baru.

“Hal yang pertama kali menarik perhatian saya ketika tiba di Guangzhou adalah melihat

orang- orang China, kemudian sistem pembayaran yang semuanya serba online,” katanya.

Lebih lanjut ditarangkan, ia mengambil jurusan “Machinery Manufacturing and Automation”, tidak hanya memberikan pembelajaran teori, tetapi juga praktik terkait mesin, teknologi, otomasi dan proses manufaktur.

Ia menilai salah satu hal yang paling berkesan dari sistem pendidikan di China adalah kedisiplinan waktu.

“Semua serba tepat waktu. Liburnya juga tergolong lebih sedikit dibanding Indonesia. Bahkan ada hari Minggu yang digunakan sebagai hari belajar untuk mengganti hari libur sebelumnya,” ungkapnya.

Selain teknologi, kehidupan di China juga membuat Daniel harus beradaptasi dengan bahasa Mandarin. Karena bahasa itu digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari perkuliahan hingga berkomunikasi dengan masyarakat setempat

Ia bahkan pernah mengalami kejadian lucu ketika seorang warga China bertanya mengenai arah jalan di lingkungan kampus. Karena belum memahami bahasa Mandarin dengan baik, ia hanya bisa terdiam.

“Namun, pengalaman itu justru mendorongnya untuk terus belajar bahasa Mandarin sedikit demi sedikit,” ucapnya.

Ia mengaku, selama menimba ilmu di luar negeri, tentu rindu dengan masakan orangtua. Namun, kesibukan kuliah tidak membuat Daniel melupakan kampung halaman. Jarak ribuan kilometer ke kampung halaman, membuat makanan di rumah menjadi salah satu hal yang paling dirindukannya.

“Kami selalu rindu masakan rumah, terutama masakan mama. Saya kangen semua masakan mamak, terutama ayam goreng bumbu,” katanya.

Di sela perkuliahan, Daniel dan teman-temannya juga menghabiskan waktu bersama mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa China. Mereka terkadang makan malam bersama, bernyanyi, atau sekadar berkumpul untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas akademik.

Malam hari biasanya diisi dengan mengerjakan tugas dan mempersiapkan materi perkuliahan untuk keesokan harinya. Di tengah kesibukan itu, komunikasi dengan keluarga menjadi pengobat rindu. Pertanyaan sederhana dari orang tua seperti sudah makan, sehat atau bagaimana kuliah terasa semakin berarti ketika berada jauh dari rumah.

“Ada rasa rindu karena jaraknya jauh, sedih karena tidak akan berjumpa selama tiga tahun, tetapi juga senang karena masih bisa berkomunikasi dan menceritakan pengalaman baru di China,” ujarnya.

Bagi Daniel, kesempatan belajar di China bukan sekadar mendapatkan pendidikan di luar negeri. Ia ingin membawa pengalaman dan keterampilan yang diperolehnya untuk masa depan.

Ia berharap dapat menguasai bahasa Mandarin sekaligus meningkatkan kemampuan praktik di bidang mesin sesuai dengan jurusannya.

“Saya berharap bisa memaksimalkan segala hal yang saya pelajari di sini, termasuk ilmu dari jurusan dan kemampuan berbahasa Mandarin. Semoga kelak saya bisa bekerja di perusahaan tambang dengan membawa pengalaman dari China,” harapnya.

Program beasiswa PT DPM telah berjalan sejak 2019, sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat perusahaan. Bagi Daniel dan mahasiswa asal Dairi lainnya, kesempatan tersebut menjadi jalan untuk mengenal teknologi, budaya dan lingkungan pendidikan internasional.

Dari Guangzhou, mereka tidak sekadar mengejar ijazah. Mereka sedang mengumpulkan ilmu, pengalaman dan keterampilan yang diharapkan dapat dibawa pulang untuk membangun masa depan setelah kembali ke Indonesia.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.